Sunday, June 30, 2013

Ledakan Penduduk? Genre Jawabannya



Suatu bangsa terdiri dari elemen-eleman yang terjalin seperti mata rantai yang berkesinambungan dan tak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Lebih ditekankan lagi pada penduduk yang mendiami suatu wilayah tertentu dalam waktu tertentu pula. Lambat laun penduduk membawa permasalahan tersendiri terhadap perkembangan suatu wilayah diantaranya kepadatan penduduk bahkan terjadinya ledakan penduduk yang merupakan masalah krusial yang berdampak pada masa depan suatu Negara.

Sebagai negara terpadat keempat dengan jumlah penduduk 237,6 juta jiwa setelah China, India dan Amerika Serikat, Indonesia menitikberatkan masalah kependudukan menjadi hal terpenting yang menjadi perhatian utama bukan hanya untuk pemerintah tapi seluruh elemen terkait dalam hal ini masyarakat. Untuk itu, melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BkkbN) pemerintah meluncurkan beberapa program untuk menanggulangi ledakan penduduk yang dikhawatirkan akan berdampak secara multi dimensi bagi Indonesia. Dampak tersebut diantaranya  munculnya masalah baru seperti semakin terpuruknya perekonomian di Indonesia, berkurangnya lapangan kerja hingga penurunan pendapatan perkapita serta penurunan tingkat kesejahteraan masyarakat, yang tentunya dapat memicu meningkatnya tingkat kriminalitas.

(Remaja tak berencana? Apa kata dunia)
Data sensus penduduk 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia mencapai 238,6 juta jiwa, 64 juta jiwa diantaranya merupakan remaja. Berdasarkan fenomena di atas, remaja merupakan elemen terpenting yang ikut berperan dalam masalah kependudukan. Dalam tulisan ini, saya akan menitikberatkan pada permasalahan remaja dalam usia 10 - 24 tahun (data berdasarkan WHO (World Health Organization)). Dalam rentan usia tersebut beragam permasalahan kompleks terjadi pada remaja. Sifat keingintahuan remaja membuat mereka cenderung melakukan hal-hal yang secara sadar maupun tidak membawa mereka ke hal-hal yang dapat menggeserkan nilai moral. Beberapa hal yang menjadi perbincangan hangat seputar masalah remaja diantaranya masalah kesehatan reproduksi remaja. Seperti dilansir oleh kompasiana.com beberapa hari lalu, Ilyani Sudardjat melaporkan bahwa setiap bulannya ada saja remaja usia 15-19 tahun hamil. Dalam setahun, 4,8% remaja putri hamil. Jumlah remaja usia 15-19 tahun di Indonesia = 43 jutaan. Sebanyak 62% mengaku pernah melakukan hubungan seksual suami-istri. Setiap tahun lebih dari 600 ribu remaja putri kehilangan keperawanannya. Jumlah remaja putri yang pernah melakukan hubungan seksual = 15 jutaan. Dari tiap 1000 remaja putri, 48 remaja hamil. Jika dari 20 jutaan remaja putri, maka paling tidak 600 ribuan remaja putri yang hamil. Di tahun berikutnya maka akan lahir 600 ribuan bayi dari orang tua yang belum siap secara mental dan financial.


Dalam kasus ini, pendekatan terhadap remaja yang harus diperhatikan mengingat remaja dalam masa transisi memiliki ego dan sensitifitas yang tinggi terhadap suatu permasalahan.
(Mari bergabung dengan PIK Remaja)
Untuk itu, program Genre dan juga PIK KRR (Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja) yang dicanangkan pemerintah Indonesia melalui  BKKBN yang menyentuh remaja dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga bangku kuliah adalah salah satu cara yang jika dioptimalkan dengan baik dapat meminimalisir bahkan menanggulangi terjadinya ledakan penduduk. Hal ini dibuktikan melalui hasil penelitian diperoleh pengetahuan remaja sebelum mengikuti PIK-KRR sebagian besar kurang yaitu sebanyak 18 responden ( 60 %). Pengetahuan remaja setelah mengikuti PIK-KRR sebagian besar baik yaitu sebanyak 29 responden ( 96,7 %). Dari uji statistik dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dari frekuensi pengetahuan remaja sebelum mengikuti PIK-KRR dan sesudah mengikuti PIK-KRR (p = 0,0000). Dari hasil penelitian ini diketahui PIK-KRR efektif untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja. Direkomendasikan bahwa PIK-KRR dapat digunakan sebagai intervensi dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja.

Hal tersebut juga mendapat dukungan dari kepala BKKBN Fasli Jalal dalam pernyataan beliau dalam sebuah situs online yang optimis program Genre akan sangat membantu berbagai permasalahan remaja. Berikut pernyataan beliau dalam Republika kamis (13/6) saat menjawab pertanyan yang diajukan situs tersebut tentang andil program Genre terhadap jumlah remaja di Indonesia.” BKKBN punya remaja-remaja yang mengenyam pendidikan sudah di atas 65 persen. Jadi, 65 persen sudah ada di pendidikan, 25 persen berada di perguruan tinggi. Ini harus kita masifkan. Genre tidak hanya mencari duta-duta mahasiswa saja. Dosen kita kasih wawasan, OSIS kita bantu. Bukan hanya menjadi peserta duta, tetapi juga mampu menjadi sekretarian di lingkungannya. Tapi, ini harus disampaikan dengan bahasa mereka agar lebih mudah dipahami.” tutur bapak Fasli jalal.

Selain itu, BKKBN mencatat sepanjang tahun 2012 kejadian Pernikahan Remaja mengalami kenaikan. Di sisi lain, program Keluarga Berencana angka pesertanya terus menurun. Untuk itu sebagai upaya mengatasi pertumbuhan jumlah penduduk dengan cepat, pemerintah Indonesia mengembangkan program Generasi Berencana (GenRe) untuk mengajak remaja mulai merancang kehidupannya, dari merencanakan usia perkawinan, masa hamil, jarak kehamilan hingga jumlah anak.

(Salam Genre)
Untuk itu, teman, jadilah generasi berencana, yang muda yang berencana. Mari merencanakan masa depan berkeluarga dengan matang, menikah disaat yang tepat , tepat secara psikologi, kesehatan reproduksi maupun finansial. Bangsa ini adalah bangsa yang besar yang diperjuangkan dengan darah kepahlawanan para jiwa muda dimasa belanda masih menjadi tamu setia negara ini. Kualitas bangsa Indonesia sekarang dan akan datang tergantung kualitas kita para generasi muda. Menanamkan rasa cinta dan memiliki terhadap bangsa adalah salah satu cara mudah yang bisa lakukan. Ibarat tanaman, jika Negara Indonesia adalah tanaman, dan kita adalah pemiliknya, rawatlah agar menjadi tanaman yang cantik dikemudian hari. Tak ada petani yang sanggup membiarkan tanamannya layu dan kering. Darahku, jiwaku, untuk Indonesiaku. Salam Genre!


Referensi:
ceria.bkkbn.go.id