Suatu
bangsa terdiri dari elemen-eleman yang terjalin seperti mata rantai yang
berkesinambungan dan tak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Lebih ditekankan
lagi pada penduduk yang mendiami suatu wilayah tertentu dalam waktu tertentu pula.
Lambat laun penduduk membawa permasalahan tersendiri terhadap perkembangan
suatu wilayah diantaranya kepadatan penduduk bahkan terjadinya ledakan penduduk
yang merupakan masalah krusial yang berdampak pada masa depan suatu Negara.
Sebagai
negara terpadat keempat dengan jumlah penduduk 237,6 juta jiwa setelah China,
India dan Amerika Serikat, Indonesia menitikberatkan masalah kependudukan menjadi
hal terpenting yang menjadi perhatian utama bukan hanya untuk pemerintah tapi
seluruh elemen terkait dalam hal ini masyarakat. Untuk itu, melalui Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BkkbN) pemerintah meluncurkan
beberapa program untuk menanggulangi ledakan penduduk yang dikhawatirkan akan
berdampak secara multi dimensi bagi Indonesia. Dampak tersebut diantaranya munculnya masalah baru seperti semakin
terpuruknya perekonomian di Indonesia, berkurangnya lapangan kerja hingga
penurunan pendapatan perkapita serta penurunan tingkat kesejahteraan
masyarakat, yang tentunya dapat memicu meningkatnya tingkat kriminalitas.
Data
sensus penduduk 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia mencapai 238,6
juta jiwa, 64 juta jiwa diantaranya merupakan remaja. Berdasarkan fenomena di
atas, remaja merupakan elemen terpenting yang ikut berperan dalam masalah
kependudukan. Dalam tulisan ini, saya akan menitikberatkan pada permasalahan
remaja dalam usia 10 - 24 tahun (data berdasarkan WHO (World Health Organization)). Dalam rentan usia tersebut beragam
permasalahan kompleks terjadi pada remaja. Sifat keingintahuan remaja membuat
mereka cenderung melakukan hal-hal yang secara sadar maupun tidak membawa
mereka ke hal-hal yang dapat menggeserkan nilai moral. Beberapa hal yang
menjadi perbincangan hangat seputar masalah remaja diantaranya masalah
kesehatan reproduksi remaja. Seperti dilansir oleh kompasiana.com beberapa hari lalu, Ilyani Sudardjat melaporkan
bahwa setiap bulannya ada saja remaja usia 15-19 tahun
hamil. Dalam setahun, 4,8% remaja putri hamil. Jumlah remaja usia
15-19 tahun di Indonesia = 43 jutaan. Sebanyak 62% mengaku pernah melakukan
hubungan seksual suami-istri. Setiap tahun lebih dari 600 ribu remaja putri
kehilangan keperawanannya. Jumlah remaja putri yang pernah melakukan hubungan
seksual = 15 jutaan. Dari tiap 1000 remaja putri, 48 remaja hamil. Jika dari 20
jutaan remaja putri, maka paling tidak 600 ribuan remaja putri yang hamil. Di
tahun berikutnya maka akan lahir 600 ribuan bayi dari orang tua yang belum siap
secara mental dan financial.
Dalam
kasus ini, pendekatan terhadap remaja yang harus diperhatikan mengingat remaja dalam
masa transisi memiliki ego dan sensitifitas yang tinggi terhadap suatu
permasalahan.
| (Mari bergabung dengan PIK Remaja) |
Untuk
itu, program Genre dan juga PIK KRR (Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan
Reproduksi Remaja) yang dicanangkan pemerintah Indonesia melalui BKKBN yang menyentuh remaja dari Sekolah
Menengah Pertama (SMP) hingga bangku kuliah adalah salah satu cara yang jika
dioptimalkan dengan baik dapat meminimalisir bahkan menanggulangi terjadinya
ledakan penduduk. Hal ini dibuktikan melalui hasil penelitian diperoleh
pengetahuan remaja sebelum mengikuti PIK-KRR sebagian besar kurang yaitu
sebanyak 18 responden ( 60 %). Pengetahuan remaja setelah mengikuti PIK-KRR
sebagian besar baik yaitu sebanyak 29 responden ( 96,7 %). Dari uji statistik
dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dari frekuensi
pengetahuan remaja sebelum mengikuti PIK-KRR dan sesudah mengikuti PIK-KRR (p =
0,0000). Dari hasil penelitian ini diketahui PIK-KRR efektif untuk meningkatkan
pengetahuan kesehatan reproduksi remaja. Direkomendasikan bahwa PIK-KRR dapat
digunakan sebagai intervensi dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan
reproduksi remaja.
Hal tersebut juga mendapat dukungan dari kepala BKKBN Fasli Jalal dalam
pernyataan beliau dalam sebuah situs online yang optimis program Genre akan
sangat membantu berbagai permasalahan remaja. Berikut pernyataan beliau dalam
Republika kamis (13/6) saat menjawab pertanyan yang diajukan situs tersebut
tentang andil program Genre terhadap jumlah remaja di Indonesia.”
BKKBN punya remaja-remaja yang mengenyam pendidikan sudah di atas 65 persen.
Jadi, 65 persen sudah ada di pendidikan, 25 persen berada di perguruan tinggi.
Ini harus kita masifkan. Genre tidak hanya mencari duta-duta mahasiswa saja.
Dosen kita kasih wawasan, OSIS kita bantu. Bukan hanya menjadi peserta duta,
tetapi juga mampu menjadi sekretarian di lingkungannya. Tapi, ini harus
disampaikan dengan bahasa mereka agar lebih mudah dipahami.” tutur bapak Fasli
jalal.
Selain
itu, BKKBN mencatat sepanjang tahun 2012 kejadian Pernikahan Remaja mengalami
kenaikan. Di sisi lain, program Keluarga Berencana angka pesertanya terus
menurun. Untuk itu sebagai upaya mengatasi pertumbuhan jumlah penduduk dengan
cepat, pemerintah Indonesia mengembangkan program Generasi Berencana (GenRe)
untuk mengajak remaja mulai merancang kehidupannya, dari merencanakan usia
perkawinan, masa hamil, jarak kehamilan hingga jumlah anak.
| (Salam Genre) |
Untuk
itu, teman, jadilah generasi berencana, yang muda yang berencana. Mari merencanakan
masa depan berkeluarga dengan matang, menikah disaat yang tepat , tepat secara
psikologi, kesehatan reproduksi maupun finansial. Bangsa ini adalah bangsa yang
besar yang diperjuangkan dengan darah kepahlawanan para jiwa muda dimasa
belanda masih menjadi tamu setia negara ini. Kualitas bangsa Indonesia sekarang
dan akan datang tergantung kualitas kita para generasi muda. Menanamkan rasa
cinta dan memiliki terhadap bangsa adalah salah satu cara mudah yang bisa
lakukan. Ibarat tanaman, jika Negara Indonesia adalah tanaman, dan kita adalah
pemiliknya, rawatlah agar menjadi tanaman yang cantik dikemudian hari. Tak ada
petani yang sanggup membiarkan tanamannya layu dan kering. Darahku, jiwaku,
untuk Indonesiaku. Salam Genre!
Referensi:
ceria.bkkbn.go.id
