Kembali gadis sederhana menyapa si kertas kosong. Tinta kehidupan kini tercium meyambut kerinduan akan cerita-cerita yang telah Tuhan takdirkan untuk ku jalani. Shubuh nan damai, suara adzan yang tadinya membelah cakrawala kini mulai terdengar samar, merdunya kicauan burung terdengar nakal dibalik jendela kamarku, ayam jantan berkokok pertanda dimulainya pagi nan indah ini. Apa kabar dunia? Siluet matahari mengintip dengan elok nan malu dibalik gunung hijau yang terbentang dengan sangarnya, percakapan ayam jantan dan bisikan burung menambah riuknya pagi. Apa kabar Cerobong Asapku? Sudahkah kau menghirup virginnya udara di pagi ini? Sudahkah kau bersujud akan kenikmatan hidup yang telah Tuhan anugerahkan kepadamu? Alam kembali menunjukkan keanggunannya. Bahkan Suara Tv di ruangan ini tak mampu mengalahkan indahnya alunan musik alam di pagi ini. Hooaaammm, seraya menggerakkan otot-otot lemasku, Selamat pagi dunia, Selamat Pagi cerobong Asapku, Selamat pagi Tuhan ku yang baik, terima kasih atas oksigen yang Kau izinkan untuk ku hirup hari ini.
Sejenak lengang,
Ku biarkan udara
pagi menembus sudut-sudut kamar menari-nari ditubuhku menebarkan dingin yang
ingin ku peluk dengan eratnya. Segarnya ruangan dipenuhi kado kiriman Tuhan
dipagi ini. Seketika kuhirup hingga merasuk ke paru-paru seraya menyapa
jantungku yang berdenyut menciptakan irama kehidupan. Dinginnya hingga ujung
jari kaki ku tertawa geli mencari selimut pink
favorit ku untuk berlindung. Tak ada yang seindah pagi, tak ada yang seindah
ciptaan Tuhan, sujud ku hanya untuk Mu sang Maha Pencipta.
Entah dari sudut
mana si gadis akan memulai ceritanya di pagi yang penuh berkah ini, pikiran yang
carut marut, hati bak rujak cingur, fisik yang memanggil untuk diistirahatkan,
mata bagaikan si besar imut panda, tangan yang dihiasi kuku cantik bewarna
merah light tak hentinya memencet keyboard hitam milik si lapy. Aku hanya ingin menulis, menulis dan
menulis, menuliskan kisah hidupku, mengekspresikan perasaanku yang terasa lebih
bebas saat ku curahkan di kertas putih ini. Ku tatap kursor putih yang telah
lama menungu untuk di direct, dan sejenak
ku pejamkan mata, tampak samar dalam bayanganku sosok pria dengan bahu kokohnya,
sosok itu, sosok yang selalu membuat hidupku berwarna, sosok yang telah banyak
mengajarkan ku akan kehidupan, sosok yang membuat senyum indah bahkan tawa
terukir dibibirku, sosok yang terkadang membuat kilauan berlian tak sanggup
bernaung dimataku, sosok yang memeluk ku dengan erat saat batin dan raga ini
tak mampu merasakan hangatnya aroma kehidupan, sosok yang terkadang membuatku sebel akan guyonan lucu penuh kemanjaan,
sosok yang rajin membuat Ace Duos ku
berdering sepanjang hari, sosok yang membuat hari-hariku was was khawatir akan dirinya,
sosok yang selalu datang bertamu di denyut jantungku, sosok yang selalu ada
dalam daftar doaku disetiap shalatku, sosok yang terkadang menunjukkan
kesangarannya atas kecerobohan dan keras kepalaku, sosok yang selalu membuat ku
galau dan berpikir tak karuan akan
tindak tuturnya, sosok yang telah menorehkan asam manis cerita dalam
kehidupanku. Ya, dialah Cerobong Asapku, tersenyum dengan hangatnya menyambut dalam
bayang retina mataku.
Akhir-akhir ini
banyak hal yang terjadi yang memaksa urat kedewasaanku berpikir, memikirkan banyak
hal tentang drama yang tak pernah ada hentinya. Begitulah ilustrasi akan sebuah
kehidupan, selalu ada cerita yang diperankan apik oleh para aktor dan aktris berbakat.
Setiap orang adalah pemeran utama yang piawai memainkan peran disetiap
pementasannya. Setiap orang memiliki peran tersendiri. Ceritanya hampir sama
kemasannya saja yang sedikit berbeda, backsoundnya
adalah tangis dan tawa. Seberapa merdu bunyinya tergantung pada seberapa
kencangnya urat kedewasaan menahan tangis dan meminimalisir tawa berlebihan
yang mampu mengekang saraf kenormalan setiap individu. Beragam memang, ada yang
backsound tangis lebih banyak
daripada tawa, atau malah ada yang menyembunyikan si tangis dibalik kemasan tawa.
Terasa lucu tapi begitulah manusia membuat scene
demi scene kehidupan menjadi adegan
drama yang dramatis. Seorang teman memposting sebuah gambar di timeline
Facebook ku yang sekarang belum juga ku tambahkan diprofil ku. Gambar itu
berisi tentang tulisan yang bersumber dari psikolog, yang isinya berupa tindak
tutur manusia ketika memainkan lakonnya sebagai pelakon drama ulung. Ku
ceritakan sedikit, salah satu poin digambar itu, jika diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia kurang lebih seperti ini,” jika seseorang tertawa dengan
lepasnya, bahkan hal bodoh yang tak lucu sekalipun itu berarti dia sedang
sedih, disaat seseorang tertidur dengan lelapnya berarti dia sedang sedih. Hmm,
dengan dagu terangkat, sejenak ku berpikir, bukan tentang perkataan psikolog
itu tapi ku pusatkan pada diriku. Entah apa yang sekarang ku rasakan, seperti
ada sesuatu yang berkecamuk dalam pikiranku mengiris batinku juga menyita
perhatianku. Apakah kekhawatiran menggila tak karuan akan cerobong asapku
kambuh lagi? Oh, Sang Maha Pencipta hamba mu yang lemah selemah kapas bermassa sekian
gram yang sekali tertiup angin terbang tanpa arah dan tak mampu bertahan,
merindukan sosokMu di dalam relung hatiku. Merindukan tiupan ruh ketenangan dalam
jiwaku yang lemah tak berdaya. Maafkan lah hamba yang terlalu takut kehilangan
sosok selain dirimu, yang begitu takut akan takdirmu. Keyakinanku akan rencana
baikmu mulai goyah akan nafsu jahat yang merasuk sarafku yang mengimpuls hingga
ke aliran darahku dan memaksa tubuhku berindak tutur selain yang Kau ajarkan
kepadaku. Skenariomu mulai menyentuh konflik scene antara gadis sederhana dan
cerobong asap. Sedikit menggoyahkan keyakinanku.
Hari berganti, detik
jarum jam membawaku ke hari baru, masih dengan udara yang sama, diruangan yang
sama dengan gadis yang sama pula. Perjalanan bersama beberapa teman saat
matahari mulai masuk ke peraduannya membuat ku sedikit relaks. Udara pantai
terasa membunuh sel-sel mati ditubuhku, mengeluarkan toksin dalam jaringan
otakku, hembusan angin dan derasnya ombak membelah batu karang terasa mengiris
hatiku yang sedang kalut. Sekonyong-konyong aku lupa akan sibuknya batinku
dalam gulungan benang kegalauan mencari dan memperbaiki benang yang kusut
tersebut agar mudah dirajut menjadi kain kebahagiaan dan ketenangan jiwa
seorang gadis sederhana yang sedang mencari jati diri bersama orang-orang
tercinta yang Tuhan hadirkan untuk memintal helai demi helai benang kehidupan. Ya
beginilah aku cerobong asapku, seorang gadis yang entah sampai kapan akan
menemukan jati dirinya, kebingungan akan arah hidup kemana aku akan membawa
kapalku membuatku berpikir dan bertindak layaknya anak kecil yang kehilangan
permennya. Cerobong asapku, katakanlah jika kau tak mampu lagi memintal benang
kehidupan bersama gadis ini, katakanlah jika kau muak dengan sikap yang tak
karuan gadis ini, marah tanpa alasan, sedih tak terprediksi, membuat aku makin
bingung bersikap didepanmu cerobong asapku. Tidakkah kau mencari gadis baik
lainnya untuk menemani harimu, membuatmu lebih tenang dan nyaman dalam caramu?
Ah, apa-apaan aku ini, penawaran yang aneh yang tak akan mungkin dilakukan oleh
gadis mana pun. Lihat, sebegitu anehnya kepribadian gadis ini cerobong asapku?
Tapi beginilah aku, kekhawatiran yang berlebihan akan ketidaknyamanan dan
kebahagiaan orang disekitarku membuat neuron dalam sistem kerja otakku bahkan
bosan untuk mengingatku untuk tak berimajinasi memikirkan hal aneh yang mungkin
saja akan terjadi jika setiap detik ku kirimkan sugesti nakal itu.
Dalam diamku, ku
tahu hanya Engkau yang mampu menjawab semua kekusutan pikiranku, memecah
dinding ketidaknyamanan yang terbentang di hatiku. Sebenarnya apa yang ku
inginkan didunia ini? Kebahagiaan? Bentuk kebahagiaan seperti apa? Atau mungkin
menghabiskan waktu demi waktu mengukir kisah indah bersama pasangan hidupku?
Seperti apakah dia nanti? Cerobong asapku biarkan ku belajar memahami diriku,
memahami dirimu dan memahami hidup ini. Setiap orang terlahir dengan takdirnya
masing-masing biarkan aku belajar untuk menjadi takdir bagimu, berjalan diatas
jejak kakimu, menghirup oksigen yang sama disetiap tempat berbeda yang kau
tapaki. Berlindung dilingkaran takdir yang Dia tuliskan untuk kita dan
membiarkan rencana indah Tuhan membawa kita ke tempat terindah dimana hanya ada
kita dan music klasik yang melantun indah berasal dari bangunan kolosal yang
memiliki nilai sejarah tinggi akan sebuah keromantisan kisah romeo dan Juliet
yang melegenda.
#SPN
Tadinya aku berpikir
untuk mengakhiri sekuel serobong asap ini dengan kata-kata di atas. Namun, hati
ini memanggil jiwaku untuk menggerakkan jari-jari lentik ini menulis kembali
kisah tentang cerobong asapku yang makin mewarnai hidupku. Layaknya gadis ABG
yang baru mengenal kata “cinta” itulah yang ku rasakan setiap bertemu cerobong
asapku, menatap matanya yang hangat, memeluk tubuhnya mencium aroma keringat
khas cerobong asapku. Lantunan relaxation
music piano I karya Chopin dkk merangsang hasrat menulisku semakin
menggila, jariku tak hentinya memainkan
tuts si hitam lapy, menuliskan kisahku, kisah yang telah ku tanda tangani perjanjian
kontraknya bersama sang Sutradara ulung jauh sebelum ragaku tertiup ruh
kehidupan. Dinginnya udara malam kali ini rupanya tak begitu bersahabat,
sekali-kali ku ambil tissue di meja
tempat make-up ku berbaris rapi,
keringat didahiku membuatku gerah sedikit menganggu semangat menulisku. Tapi
hal itu tak menyurutkan hasratku untuk berbagi kisahku. Ku rasakan alam
berbincang denganku, menyampaikamn pesan akan kebesaran Sang Maha Pencipta,
menciptakan siang dan malam menyediakan layanan terbaik untuk manusia,
beraktivitas, beristirahat dan merasakan nikmatnya hidup yang terasa sangat
indah jika setiap detiknya kita syukuri dan seraya mengambil hikmah untuk di
aplikasikan dalam gadget canggih yang bernama kehidupan. Bulan terasa
menyapaku, senyumnya menembus hitamnya langit malam, menerobos fentilasi
kamarku seraya menyampaikan pesan untuk menenangkan jiwa kelabuku.
Music chopin, schubert, handle, brahms dkk
masih mengalun dengan indahnya menjadi teman setiaku malam ini. Nada demi nada karya
musisi berbakat kelas dunia ini seakan ikut berbicara kepadaku, menepuk bahuku
sambil mengatakan hidup ini akan baik-baik saja kawan, jalanilah dan
nikmatilah. Spontan, kusambut dengan senyum kecil nan tulus.
Obrolan singkat kami
di sebuah restaurant sederhana tadi membuatku kembali terpikir akan sosok cerobong
asapku. Guratan kepenatan serta air muka yang menunjukkan lemahnya raga akan
rutinitas dan hal-hal yang menyita pikiran dan batinnya terlihat jelas
tergambar di raut wajahnya yang penuh kehangatan. Mata yang masih
memiliki sinaran yang sama seperti biasanya aku memandangnya, ku mencoba untuk
menghibur dengan sedikit lelucon kecil yang akhirnya mampu mengukir tawa kecil
dibibirnya. Hehehe, cerobong asapku, sayangku entah dengan bagaimana lagi aku
mencari kata dalam kamus bahasa manusia untuk mengekspresikan rasa syukurku terhadap
Sang Maha Pencipta yang telah menghadirkan mu dalam hidupku. Selamat malam cerobong
asapku, doa ku untukmu agar selalu dalam lindunganNya melakukan kebaikan demi
kebaikan menjadi pribadi yang berbahu kokoh, berhati lembut dan memiliki
sinaran mata nan tulus yang berasal dari hangatnya sebongkah hati ciptaan
Tuhan.
With Love, Gadis
Sederhana #SPN
No comments:
Post a Comment